tulisan berjalan

Pusat Jual Beli Aneka Burung . . . pak Syam Klaten . . . telp / WA : 0812-8054-3060

Minggu, 02 Juni 2013

dan Juara itu Kini Bukan Indonesia Lagi


Suatu hari di Bikini Buttom diselenggarakan pesta laut. Salah satu acara wajib dalam pesta tahunan itu adalah lelang otak masing-masing spesies penghuni laut. Kuda Laut, Udang dan Ubur-Ubur adalah sederetan komunitas peserta lelang kali ini. Setelah melalui seleksi yang sangat ketat akhirnya ditetapkanlah, otak Kuda Laut mendapatkan skor yang paling tinggi disusul otak Ubur-Ubur. Sedangkan otak Udang mendapatkan skor paling buncit, alias dihargai paling rendah. Tentu saja perwakilan komunistas Udang, Ebi dan Lobster melakukan protes. Tapi sudah terlambat sebab keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat karena bersifat mutlak.

Sepulang dari lelang si Udang menjadi juru bicara yang mempertanggungjawabkan kekalahannya di depan sidang komunitas mereka. “Tenang saudara-saudara, kita adalah juaranya yang sejati. Otak kita dihargai paling tinggi, sebab kotoran kita saja juara tiga apa lagi kalau kita mengikutkan otak kita dalam lelang tersebut” kata udang dengan bangga.
Begitulah hebatnya otak di dunia Bikini Buttom, dunia khayalnya Sponsbob. Dalam dunia kita tak ayal lagi, lelang otak juga menjadi ajang bergengsi untuk menunjukkan kecerdasan masing-masing etnis sebagaimana anekdot lelang otak tiga tahunan yang diikuti oleh Jepang, Amerika dan Indonesia yang popular beberapa waktu yang lalu. Waktu itu juaranya adalah otak orang Indonesia karena dianggap paling orisinil alias jarang dipakai sehingga berharga mahal. Maka otak orang Indonesia mendapat juara pertama. Eh ngomong-ngomong sudah dengar belum kalau juara tahun ini disabet oleh Jepang ? Eh bener lo, ini serius.
Menurut sebuah sumber di dunia anekdot, tahun ini lomba itu diselenggarakan di Singapura. Dalam grand final kali ini pesertanya persis dengan lomba tiga tahun yang lalu yaitu Jepang, Amerika dan Indonesia. Hanya bedanya di ujung acara galashow itu terjadi kejutan yang luar biasa, karena di luar dugaan semua pihak ternyata otak yang paling mahal adalah otak orang Jepang. Ini menggambarkan bahwa dalam kontes tersebut diperoleh fakta bahwa otak orang Jepang dinilai paling orisinil dibanding dengan otak orang Amerika dan otak oang Indonesia. Dianggap paling orisinil karena paling jarang dipakai.
Tentu saja ini mengagetkan banyak pihak. Khusus untuk mengklarifikasi mengenai kehebatan otak orang Indonesia ada siaran pers dari panitia, bahwa otak orang Indonesia dalam tiga tahun terakhir ini dipakai selama duapuluh empat jam dalam sehari, tujuh hari dalam sepekan tanpa berhenti. Wouw . . luar biasa ini berarti wakil dari Indonesia telah menunjukkan bahwa mimpinyapun sambil mikir, ngoroknya dipenuhi teka teki silang, apalagi mikirnya pasti ruwet he he . . . . .
Penasaran ingin tahu kehebatan otak orang Indonesia ? Mari ikuti saya ! Di dorong rasa penasaran saya melakukan penelusuran lebih lanjut. Dan ternyata memang benar penelusuran saya membuktikan bahwa memang otak Jepanglah yang paling berhak menyandang sebagai juara pertama. Otak orang Jepang memang paling orisinil alias paling jarang dipakai. Penjelasannya begini; seiring tingkat kemakmuran Jepang yang makin meningkat maka tantangan hidup di Jepang semakin menurun, akibatnya mereka lebih banyak traveling, shoping, dan ajojing atau jogging bareng anjing mereka. Maka pikiran mereka jadi santai
Sedangkan orang Amerika, seiring dengan semakin membengkaknya biaya perang di Irak dan Afghanistan beberapa waktu yang lalu, beban rakyat semakin menumpuk. Maka rakyat Amerika di paksa berfikir keras akibat kebijakan berbasis ambisi kapiltalistik para pemimpinnya terus. Maka otak mereka lumayan terpakai.
Terus orang Indonesia bagaimana ceritanya bisa menjadi otak paling bergengsi, bahkan dalam tiga tahun terakhir ini disebut sebagai otak yang selalu befikir keras bahkan dua puluh empat jam dalam sehari dan tujuh hari dalam sepekan tidak berhenti ?
Hasil penelusuran saya ternyata anti klimak alias tidak mengejutkan. Ini sesuai dengan adagium di dunia spionase bahwa acap kalai kasus-kasus besar bisa diurai dengan cara yang sederhana, karena memang persoalannya sederhana. Penelusuran saya memperoleh fakta bahwa ternyata pihak Indonesia mengirimkan wakil yang salah. Peserta lomba dari Indonesia adalah mantan pesakitan KPK dalam kasus Century dan Hambalang. Pantas saja dia berfikir siang malam karena ingin menyelamatkan dirinya dan kroninya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar