Suatu hari di Bikini Buttom
diselenggarakan pesta laut. Salah satu acara wajib dalam pesta tahunan itu
adalah lelang otak masing-masing spesies penghuni laut. Kuda Laut, Udang dan Ubur-Ubur
adalah sederetan komunitas peserta lelang kali ini. Setelah melalui seleksi
yang sangat ketat akhirnya ditetapkanlah, otak Kuda Laut mendapatkan skor yang
paling tinggi disusul otak Ubur-Ubur. Sedangkan otak Udang mendapatkan skor
paling buncit, alias dihargai paling rendah. Tentu saja perwakilan komunistas Udang,
Ebi dan Lobster melakukan protes. Tapi sudah terlambat sebab keputusan dewan juri
tidak dapat diganggu gugat karena bersifat mutlak.
Sepulang dari lelang si Udang
menjadi juru bicara yang mempertanggungjawabkan kekalahannya di depan sidang
komunitas mereka. “Tenang saudara-saudara, kita adalah juaranya yang sejati.
Otak kita dihargai paling tinggi, sebab kotoran kita saja juara tiga apa lagi
kalau kita mengikutkan otak kita dalam lelang tersebut” kata udang dengan
bangga.
Begitulah hebatnya otak di dunia
Bikini Buttom, dunia khayalnya Sponsbob. Dalam dunia kita tak ayal lagi, lelang
otak juga menjadi ajang bergengsi untuk menunjukkan kecerdasan masing-masing
etnis sebagaimana anekdot lelang otak tiga tahunan yang diikuti oleh Jepang,
Amerika dan Indonesia yang popular beberapa waktu yang lalu. Waktu itu juaranya
adalah otak orang Indonesia karena dianggap paling orisinil alias jarang
dipakai sehingga berharga mahal. Maka otak orang Indonesia mendapat juara
pertama. Eh ngomong-ngomong sudah dengar belum kalau juara tahun ini disabet
oleh Jepang ? Eh bener lo, ini serius.
Menurut sebuah sumber di dunia
anekdot, tahun ini lomba itu diselenggarakan di Singapura. Dalam grand final
kali ini pesertanya persis dengan lomba tiga tahun yang lalu yaitu Jepang,
Amerika dan Indonesia. Hanya bedanya di ujung acara galashow itu terjadi
kejutan yang luar biasa, karena di luar dugaan semua pihak ternyata otak yang
paling mahal adalah otak orang Jepang. Ini menggambarkan bahwa dalam kontes
tersebut diperoleh fakta bahwa otak orang Jepang dinilai paling orisinil
dibanding dengan otak orang Amerika dan otak oang Indonesia. Dianggap paling orisinil
karena paling jarang dipakai.
Tentu saja ini mengagetkan banyak
pihak. Khusus untuk mengklarifikasi mengenai kehebatan otak orang Indonesia ada
siaran pers dari panitia, bahwa otak orang Indonesia dalam tiga tahun terakhir
ini dipakai selama duapuluh empat jam dalam sehari, tujuh hari dalam sepekan
tanpa berhenti. Wouw . . luar biasa ini berarti wakil dari Indonesia telah
menunjukkan bahwa mimpinyapun sambil mikir, ngoroknya dipenuhi teka teki silang,
apalagi mikirnya pasti ruwet he he . . . . .
Penasaran ingin tahu kehebatan otak
orang Indonesia ? Mari ikuti saya ! Di dorong rasa penasaran saya melakukan
penelusuran lebih lanjut. Dan ternyata memang benar penelusuran saya membuktikan
bahwa memang otak Jepanglah yang paling berhak menyandang sebagai juara
pertama. Otak orang Jepang memang paling orisinil alias paling jarang dipakai. Penjelasannya
begini; seiring tingkat kemakmuran Jepang yang makin meningkat maka tantangan
hidup di Jepang semakin menurun, akibatnya mereka lebih banyak traveling,
shoping, dan ajojing atau jogging bareng anjing mereka. Maka pikiran mereka
jadi santai
Sedangkan orang Amerika, seiring
dengan semakin membengkaknya biaya perang di Irak dan Afghanistan beberapa
waktu yang lalu, beban rakyat semakin menumpuk. Maka rakyat Amerika di paksa
berfikir keras akibat kebijakan berbasis ambisi kapiltalistik para pemimpinnya
terus. Maka otak mereka lumayan terpakai.
Terus orang Indonesia bagaimana
ceritanya bisa menjadi otak paling bergengsi, bahkan dalam tiga tahun terakhir
ini disebut sebagai otak yang selalu befikir keras bahkan dua puluh empat jam
dalam sehari dan tujuh hari dalam sepekan tidak berhenti ?
Hasil penelusuran saya ternyata anti
klimak alias tidak mengejutkan. Ini sesuai dengan adagium di dunia spionase
bahwa acap kalai kasus-kasus besar bisa diurai dengan cara yang sederhana,
karena memang persoalannya sederhana. Penelusuran saya memperoleh fakta bahwa
ternyata pihak Indonesia mengirimkan wakil yang salah. Peserta lomba dari Indonesia
adalah mantan pesakitan KPK dalam kasus Century dan Hambalang. Pantas saja dia
berfikir siang malam karena ingin menyelamatkan dirinya dan kroninya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar