“Diminum tehnya!” kata sang bapak sambil mengulurkan
seplastik teh tawar belas kasihan warung angkringan depan Matahari Klaten yang sejak
tadi dicantolkan di stang sepadanya.
Perut keroncongan perempuan cungkring usia
delapan tahunan dengan rambut memerah karena sengatan matahari itupun sedikit
terganjal, meski hanya dengan teh tawar.
Dan bayangan sego kucing itu
masih menari-nari di pelupuk matanya, meski telah ratusan langkah ia ayun
meninggalkan angkringan itu, mengekor bapaknya yang terseok-seok menuntun sepeda
butut yang bannya bocor itu. Menambah
keroncongan perutnya.
“Semoga hari ini ada yang memberi nasi, syukur-syukur roti seperti kemarin siang !” harapnya dalam hati. Kemarin manisnya coklat sekerat donat
yang dilempar dari jendela pajero putih yang melintas angkuh itu, telah mengganjal
perutnya seharian penuh dan sekaligus menghapus rasa penasarannya tentang rasa
donat yang ia lihat dari iklan tivi di pos ronda dua minggu yang lalu.
"Dua piring besar penuh makanan hanya dimakan dua orang ?" tanyanya dengan mata yang semakin berkunang-kunang . . . . . . . . . . .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar