Syahdan di sebuah proyek apartemen berlantai tiga puluh enam, salah seorang
pekerja terlihat sedang melakukan pemasangan instalasi listrik di tempat parkir
sisi kiri bangunan. Suasana saat itu sangat bising. Ada yang memotong keramik, ada
yang mengebor beton, dan pekerjaan lain yang menimbulkan suara berisik memenuhi bangunan itu.
Sang mandor yang berada di
lantai tujuh gedung yang baru selesai setengah itu, ingin menyampaikan pesan
kepada si pekerja tersebut. Ia pun berteriak-teriak, memanggil si pekerja
dengan suara sekencang-kencangnya. Tapi, kebisingan di lantai dasar itu sekan
telah menelan suara sang mandor. Tidak memungkin baginya untuk memanggil
dengan suaranya.
Sang mandor pun memutar
otak. Ia merogoh kantong celananya dan menemukan sebuah uang logam seribu
rupiah. Ia pun punya ide untuk menarik perhatian si pekerja dengan melemparkan
uang logam tersebut. Hup! Uang itu ia lempar, mengenai lengan si pekerja, lalu
jatuh ke tanah. Si pekerja pun sadar ada sesuatu yang mengenai dirinya dan ia
pun melihat koin tadi di atas tanah.
Namun, bukannya mencari
dari mana datangnya koin itu, si pekerja justru kegirangan dan malah mengambil
koin itu lalu memasukkan ke kantongnya. “Lumayaaan… buat beli es teh!”, begitu
kurang lebih gumamnya. Kemudian iapun meneruskan pekerjaannya. Dan tanpa disadarinya ternyata dia telah mengumpulkan sembilan koin.
Sang mandor yang berada di lantai atas
kesal. Ia pun lalu memutar otak lagi dan mendapat sebuah ide baru yang lebih dahsyat. Ia mengambil sebuah batu kecil seukuran telur puyuh, lalu melempar batu itu tepat
ke atas helm yang sedang dikenakan si pekerja.
Sontak si pekerja kaget.
Ia lalu secara refleks memegangi kepalanya dan lalu menoleh ke atas. Setelah
menyadari sang mandor yang melempar batu itu untuk memanggilnya, si pekerja menyahut
dan segera menuju lantai tujuh ke tempat bosnya itu. Syukurlah dia langsung
tersadar dengan lemparan itu. Jika tidak, maka di lantai tujuh itu masih banyak terdapat batu
lain dengan aneka ukuran; ada yang segede telur ayam kampong, seukuran telur
angsa, atau sebesar telur burung onta.
Batako juga ada. Dia tentu saja lebih gede dari ketiga telur tadi. Tahu sendiri kan batako itu segede telur gajah. Semuanya siap untuk dijadikan sebagai property dalam menegur sang pekerja tadi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar