tulisan berjalan

Pusat Jual Beli Aneka Burung . . . pak Syam Klaten . . . telp / WA : 0812-8054-3060

Jumat, 03 Mei 2013

Eling


Syahdan di sebuah proyek apartemen berlantai tiga puluh enam, salah seorang pekerja terlihat sedang melakukan pemasangan instalasi listrik di tempat parkir sisi kiri bangunan. Suasana saat itu sangat bising. Ada yang memotong keramik, ada yang mengebor beton, dan pekerjaan lain yang menimbulkan suara berisik memenuhi bangunan itu.


Sang mandor yang berada di lantai tujuh gedung yang baru selesai setengah itu, ingin menyampaikan pesan kepada si pekerja tersebut. Ia pun berteriak-teriak, memanggil si pekerja dengan suara sekencang-kencangnya. Tapi, kebisingan di lantai dasar itu sekan telah menelan suara sang mandor.  Tidak memungkin baginya untuk memanggil dengan suaranya.
Sang mandor pun memutar otak. Ia merogoh kantong celananya dan menemukan sebuah uang logam seribu rupiah. Ia pun punya ide untuk menarik perhatian si pekerja dengan melemparkan uang logam tersebut. Hup! Uang itu ia lempar, mengenai lengan si pekerja, lalu jatuh ke tanah. Si pekerja pun sadar ada sesuatu yang mengenai dirinya dan ia pun melihat koin tadi di atas tanah.
Namun, bukannya mencari dari mana datangnya koin itu, si pekerja justru kegirangan dan malah mengambil koin itu lalu memasukkan ke kantongnya. “Lumayaaan… buat beli es teh!”, begitu kurang lebih gumamnya. Kemudian iapun meneruskan pekerjaannya. Dan tanpa disadarinya ternyata dia telah mengumpulkan sembilan koin.
Sang mandor yang berada di lantai atas kesal. Ia pun lalu memutar otak lagi dan mendapat sebuah ide baru yang lebih dahsyat. Ia mengambil sebuah batu kecil seukuran telur puyuh, lalu melempar batu itu tepat ke atas helm yang sedang dikenakan si pekerja.
Sontak si pekerja kaget. Ia lalu secara refleks memegangi kepalanya dan lalu menoleh ke atas. Setelah menyadari sang mandor yang melempar batu itu untuk memanggilnya, si pekerja menyahut dan segera menuju lantai tujuh ke tempat bosnya itu. Syukurlah dia langsung tersadar dengan lemparan itu. Jika tidak, maka di  lantai tujuh itu masih banyak terdapat batu lain dengan aneka ukuran; ada yang segede telur ayam kampong, seukuran telur angsa, atau sebesar telur burung onta. 

Batako juga ada. Dia tentu saja lebih gede dari ketiga telur tadi. Tahu sendiri kan batako itu segede telur gajah. Semuanya siap untuk dijadikan sebagai property dalam menegur sang pekerja tadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar